Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work