Beda Marketing di Banking vs FMCG



Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya 🙂

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.



Tugas Staff Administrator IT di Sekolah

Ada tiga bidang yang harus dikuasai oleh admin IT di sekolah. Yaitu software, hardware, dan network.

Software berarti perangkat lunak yang biasa diinstal di hampir semua komputer di sekolah. Termasuk komputer-komputer di lab komputer atau lab UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Paling utama adalah Microsoft Office atau sejenisnya. Misalnya ada Open Office dari Linux yang sifatnya opensource (terbuka untuk dikembangkan dan didistribusikan oleh siapa saja).

Sedangkan hardware, adalah perangkat-perangkat keras yang di antaranya meliputi CPU (Central Processing Unit, alias otaknya si komputer), monitor dan keyboard. Untuk keperluan sekolah, tidak diperlukan komputer yang canggih-canggih amat. Untuk Lab UNBK saja, cukup komputer dengan teknologi dual-core.

Satu lagi adalah jaringan (network). Yaitu jejaring yang menghubungkan antar komputer di sekolah. Lab UNBK maupun lab komputer biasa, butuh untuk terhubung satu sama lain dengan sebuah komputer server berperan sebagai sentral/pusat/induk dari komputer-komputer yang lain. Setidaknya, mendistribusikan data atau file menjadi lebih mudah karena cukup satu kali melalui komputer server tersebut. Tidak perlu satu demi satu melalui flash disc atau semacamnya. Bahkan di era serba Google ini, pengiriman file dapat dilakukan melalui email.

Peran sebagai troubleshooter

Ada kalanya software di komputer-komputer lab komputer kurang berfungsi dengan baik. Staf admin IT di sekolah dapat berperan sebagai lapisan pertama dalam menangani masalah (trouble shooting) tersebut. Misalnya sekedar instal ulang, me-recovery file yang hilang, dan sebagainya.

Di saat yang lain, hardware komputer ada yang tidak berfungsi dengan baik. Sehingga perlu ditukar dengan perangkat yang lain. Misalnya, keyboard yang rusak harus diganti dengan keyboard cadangan. Nah, selain melakukan penukaran tersebut, staff admin IT perlu mempersiapkan cadangan perangkat juga. Dengan cara melakukan pengajuan pengadaan perangkat komputer (CPU, monitor, keyboard) kepada kepala sekolah atau fungsi lain yang melaksanakan pengadaan barang dan jasa di sekolah.

Terkait jaringan komputer di lab komputer. Jaringan tidak selalu mulus menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lain. Untuk masalah jaringan yang cukup berat, perlu mengundang vendor untuk melakukan troubleshooting. Namun, tatkala terjadi problem ringan staff admin IT perlu mengetahui troubleshooting ringan apa saja yang bisa dilakukan. Misalnya ketika jaringan internet sedang down (turun kecepatan dan kapasitasnya), apa saja yang bisa dilakukan oleh staff admin IT. Misalnya ketika loading sedang lambat, apa solusi yang mungkin disediakan oleh staff admin IT.

Jaringan di lab komputer maupun lab UNBK pada dasarnya bersifat intranet. Jadi tidak terhubung dengan dunia luar (baca: internet). Ini akan menyulitkan apabila menggunakan suatu referensi langsung dari internet untuk didistribusikan ke 30-40 komputer sekaligus di lab komputer / lab UNBK.

Untuk mengatasi hal ini, sudah ada aplikasi dan hardware bernama Pinisi Edubox. Aplikasinya akan membantu pelaksanaan pengajaran maupun ujian. Staff admin IT dapat mengajarkan kepada guru bagaimana cara membuat soal di aplikasi Pinisi. Termasuk juga cara menyimpan dan menggunakan konten pembelajaran yang disimpan di dalam perangkat Pinisi. Hardware Pinisi (baik Smart Router, maupun Mini Server) dapat membantu guru dalam melaksanakan pengajaran maupun ujian.

Bahkan untuk lab UNBK, Mini Server dapat difungsikan bersama dengan komputer server. Sehingga distribusi materi pengajaran atau soal ujian dapat dilakukan dengan mudah. Tanpa mengalami server down atau tidak bisa ter-connect.

Demikian uraian mengenai tugas staff admin IT di sekolah. Semoga mencerahkan.

Freelance: Rasanya Kehilangan Klien

Tulisan ini seharusnya dirilis dan di-congkak-kan (baca: dipamerkan) pekan lalu. Di saat komunitas 1M1C sedang sibuk dengan minggu tema “kehilangan”. Ada yang menuliskan momen-momen kehilangan masa santay-nya karena datang masa sibuk-nya yang warbiyasak pasca melahirkan. Alhamdulillah ya, dapat amanah baru lagi as ortu dari seorang bayi. Yah, I feel that kok, Sist. Bukannya gak punya empati atas sebuah rasa kehilangan. Been there done that. Cuma gak pengen mellow marshmellow di blog aja. Biar sendu-sendunya disimpan sendiri aja en dibuang di pojok kamar. Ceilah.

Cukup introduksi ala-alanya. Jadi kembali ke laptop. Gimana rasanya?

Actually, biasa aja sih. Gak usah melibatkan perasaan. Nanti jadi ba-per. Namanya klien stop ngasi kerjaan ke kita kan bukan sesuatu yang gimana tho. Cuma aliran uang yang berhenti aja. Mirip-mirip kayak lagi mati air gitu lha. Stop mengucurnya. Tapi ini bukan akhir dunia. Toh matahari masih terbit dari timur. Mungkin kita ketahui alasannya ya. Mungkin juga tidak. Tapi bisa jadi dia memang sudah tidak butuh deliverables dari kita. Semisal foto, tulisan, image as deliverables kita yang nge-freelance as photographer, writer, and visual designer. Or other deliverables.

Mungkin juga hasil kolaborasi en coba-coba (baca: eksperimen) dia bareng kita udah mulai menampakkan hasil. Atau minimal wawasan (insight) mulai kelihatan lha. Bahwa deliverables kita kurang cocok (belum tentu kurang bagus ya) sama tipe bisnisnya dia. Kalau soal selera, kudunya udah cocok dari awal lha. Kan dia udah ngelihat portfolio kita. Jadi think positive aja. Not that worst, pokoknya.

Bisa jadi juga dia udah chemistry banget sama karya kita. Tapi sayang, satu dan lain hal, dia juga mengecil aliran “keran”nya. Omzetnya mengecil lha, atau ada piutang tak tertagih lha. Atau lainnya. Efeknya kudu stop sama kita. Dia sih pengen lanjut sama kita. Tapi apa iya kita mau pro bono gitu sambil banting tulang memeras darah? Ya enggak kan.

OK, pesannya udah ditangkap ya? Intinya jangan ba-per. Kalau segitunya dibawa ke hati, terus gak bisa move on ‘kan repot ujung-ujungya. Padahal klien ya kudu diburu terus. Hahaha. Gak ding. Yang bener memburu pekerjaan, kalau sudah dapat ya dikerjakan sebaik-baiknya. Habis itu baru penagihan sampai pelunasan. Wkwkwk.

Lagian, kalo personal brand kita udah kuat, calon klien datang sendiri, kok. Memang, kerjaan freelance itu lebih mirip B2B daripada B2C. Alias klien yang datang sebenarnya sedikit. Tapi kalau berhasil maintain, ya bisa awet juga. Gak harus berburu kecil-kecilan terus. Kayak ular viper warna ijo aja yang makan katak hijau di pohon. Sekali telan bisa berhari-hari gak cari makan lagi. Eh analoginya masuk gak ya? Hahaha. Intinya dapat kan?

However, seperti seseorang (teman, keluarga) atau sebuah barang (kunci kendaraan, kunci rumah), ada kalanya klien dan transfer-annya baru terasa ketika “hilang”. Padahal pas kerjaannya ada, susah dan dikejar deadline kita lupa bersyukur masih punya gawe-an. Di luar sana banyak lho yang cari gawe-an tapi gak nemu-nemu.

In terms of financial management, di situlah gunanya menabung. Alias tatkala sedang sepi pekerjaan, masih ada yang bisa diicip-icip sebelum brace yourself, new project is coming.

Kalau saya, berhubung hobi dagang barang juga, jadinya masih bisa jajan dari situ. Nah ini jadi “bemper” juga pas proyek lagi sepi. Intinya jangan menaruh telur di satu keranjang lha. Kalau perlu simpanlah beberapa jenis protein di beberapa kulkas. Eh, kejauhan ya? Haha. Pokoknya, creme de la creme nya gitu deh. Udah ngerti kaannnn……… namanya manajemen risiko (risk management).

Analisis aja, mana aliran omzet yang bisa rutin ngasi pemasukan (meskipun kecil nilainya). Mana pula yang nilainya besar (meski hanya sesekali). Pengennya sih semuanya dapat ya? Hahaha, tapi habis itu menyesal karena enggak ada waktu ngerjain. ((((ketawa miris))))

Kuncinya, treatment aja ini-itu kerjaan freelance as BAU (business as usual). As I ever wrote before somewhere in this blog. Bahwa sambil ada yang dikerjain, tetap aja fungsi penagihan harus berjalan terus. Demikian pula dengan fungsi jalan-jalan bertemu dengan orang baru. Ya mosok satu dari lima puluh orang kenalan baru enggak ada yang nyangkut ye kan….. hehehe

Konklusinya adalah, urusan duit jangan dibawa ke hati. Sebagaimana sebuah hadits yang sampai kepada saya, supaya dunia itu di tangan dan pikiran aja tapi tidak di hati. Tatkala klien memutuskan stop berlangganan jasa kita, kitanya gak baper parah dan aliran fulus juga enggak mampet-mampet banget.

Lagian, kalau indikatornya cuma si lembar yang bikin mata jadi ijo, kurang tepat juga. Makin banyak indikator sebenarnya makin baik. Tambahkan target dan ukuran semisal: jumlah orang baru yang ditemui, keahlian baru yang didapat dan kemudian bisa ditawarkan, dst. Segini aja dulu ya. Semoga bermanfaat.

Related post(s):

Pinisi Mobile App, simulasi ujian nasional berbasis android

Browser adalah penemuan teknologi informasi (information technology, IT) yang sangat mencengangkan sekaligus memudahkan para penggunanya. Bersama browser, kita tidak bergantung sepenuhnya kepada aplikasi-aplikasi berbasis perangkat. Baik perangkat komputer pribadi (personal computer, PC) maupun telepon genggam (handphone). Lewat browser, kita bisa mengakses dan menggunakan banyak sekali aplikasi berbasis website (web-based) tanpa harus memiliki atau mempertahankannya di perangkat kita. Penggunaanya hanya ketika kita membutuhkannya. Tinggal buka browser, kemudian kita akses dan gunakan. Bila sudah selesai, tab browsernya tinggal kita tutup. Demikianlah aplikasi berbasis web memberikan kemudahan pada kita hanya ketika kita membutuhkannya.

Ujian berbasis komputer (computer-based test, CBT) semakin mudah dan luas penggunaannya tatkala dipertemukan dengan teknologi IT berbasis browser. Tadinya, CBT menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis komputer pribadi. Sehingga aplikasi tersebut harus diinstal dan terus berada di dalam PC tersebut meskipun tidak sedang digunakan. Dengan browser sebagai medium akses, teknologi IT yang web-based mempersilahkan kita sebagai pengembang perangkat lunak (software developer) untuk merancang dan mengembangkan perangkat lunak untuk ujian. Pintu masuknya adalah sebuah alamat situs (yang lazim kita sebut URL) yang kita masukkan di dalam tab browser kita.

Sebagai software developer, Pinisi telah mantap menetapkan URL http://edubox.pinisi.io sebagai cara untuk memasuki aplikasi ujian berbasis android yang bisa pula digunakan untuk simulasi ujian nasional berbasis android. Tidak hanya aplikasi ujian berbasis android di web, tetapi tim Pinisi juga telah mengembangkan mobile application (lazim disebut mobile app) yang juga berbasis Android. Mobile app ini gratis alias tidak dipungut bayaran. Screenshot-nya berikut ini, agar anda tidak salah dalam mencari, menemukan, dan mengunduh mobile app Pinisi yang dikembangkan oleh software developer Pinisi Dev Team.

Sedangkan URL http://pinisi.io adalah landing page di mana anda bisa melakukan pemesanan sekaligus transaksi untuk produk Edubox Mini Server. Kami juga sedang mencari para reseller yang berkenan untuk turut mendistribusikan produk ini ke seluruh penjuru nusantara.

Mengapa harus android?

Tingkat kepemilikan siswa terhadap perangkat (gadget) dengan sistem operasi (operation system, OS) android jauh lebih tinggi daripada laptop. Smartphone android bahkan tersedia pada harga yang relatif terjangkau dengan kualitas yang bisa diandalkan. Berbeda dengan kompetitornya, yaitu iOS dari perusahaan Apple yang perangkat-perangkatnya berharga mahal. Dengan menggunakan perangkat dan aplikasi berbasis android, sekolah maupun para guru relatif tidak menemui hambatan tatkala meminta para siswa untuk membawa perangkat yang bisa digunakan untuk ujian berbasis android. Berbeda dengan laptop yang tidak semua keluarga memilikinya. Apabila sekolah menugaskan masing-masing siswa untuk membawa laptop, tentu tidak akan mudah. Malah sebaliknya, membebani siswa dan keluarganya.

Android juga mudah digunakan. Seiring dengan perkembangan wawasan (insight) para developer dalam merancang mobile app yang “mengerti” kebutuhan para pengguna (user). Pengalaman pengguna (user experience, UX) adalah prioritas pengembang. Dalam proses pengembangan mobile app, user tidak perlu lagi membaca petunjuk manual (manual guidance) yang biasanya berisi cara-cara bagaimana menggunakan suatu aplikasi. Berkat wawasan pengembangan UX, user akan mendapati betapa mudahnya menggunakan mobile app yang memang khusus dirancang untuknya.

Dalam hal ini, Pinisi Dev Team melakukan riset khusus berupa wawancara mendalam (in-depth interview) dan diskusi grup (focused-grups discussion) guna mengetahui pain points (suatu kebutuhan dari user, yang terasa “menyakitkan” bila tidak terpenuhi oleh aplikasi atau perangkat yang dia gunakan) dari para user. Dalam hal ini, para user adalah guru (selaku pembuat soal dan pelaksana ujian) dan siswa (selaku user yang mengerjakan soal).

Kami mendapati para guru terbebani dengan proses-proses administratif yang menyertai pelaksanaan ujian. Terutama bila ujian dilakukan menggunakan kertas. Mulai dari menyiasati kemungkinan siswa berbagi jawaban, memperbanyak lembar soal dan lembar jawaban lewat mesin photocopy, memeriksa jawaban para siswa di puluhan –bahkan ratusan– lembar jawaban, memasukkan nilai ke dalam buku raport, dan lain sebaginya. Yang cenderung menjemukan –sehingga mungkin menghilangkan konsentrasi guru—dan menghabiskan waktu. Seringkali, para guru harus menggunakan waktunya di luar jam kerja maupun jam sekolah. Yang nyata-nyata merenggut waktu untuk keluarga, maupun waktu untuk aktifitas pribadi lainnya.

Dengan aplikasi ujian berbasis android seperti Pinisi, yang bisa pula digunakan sebagai aplikasi simulasi ujian nasional berbasis android, maka para guru tidak lagi merasakan pain points tersebut.   Jadi, kemajuan teknologi digital telah membawa angin segar yang sangat berarti bagi pendidikan kita di Indonesia. Tidak hanya di perkotaan, namun juga pedesaan maupun daerah-daerah terpencil. Di mana kita sudah bisa menyelenggarakan ujian dengan lebih mudah, lebih cepat bahkan dengan biaya yang relatif terjangkau. Ya, ujian nasional berbasis android memang memberikan beberapa kemudahan bila dibandingkan dengan CBT biasa, apalagi bila dikomparasi dengan ujian berbasis kertas (paper-based test) biasa.

Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work

Related Post(s):