Asing tapi Nasional


Suatu pembelian akan terulang manakala ketika calon pembeli terasosiasi dengan nama tertentu ketika mencari produk/layanan. Mulai dari kualitas barang, harga, layanan yang diberikan, dan lain sebagainya. Semuanya ter-”connect” dengan nama merek yang diberikan.

Makanya, pada kategori tertentu, asosiasi tersebut sangat kuat. Bahkan teringat hingga level negara. Produk fesyen dengan nama merek yang agak berbau Italia atau Prancis akan terasosiasi dengan kesan ‘mewah’. Mau beli jam tangan? Kesan ‘mewah’ hanya bisa didapat dengan merek-merek yang beraroma Swiss.

Buccheri juga mengesankan nama Italia ‘banget’ kan? Padahal sepatu ini asli buatan anak negeri. Nama perusahaannya saja PT. Buccheri Indonesia. Bicara tentang perusahaan nasional bermerek asing, ada dua contoh lain yang bisa saya ceritakan.

Adalah PT. Supra Boga Lestari yang menaungi merek “Ranch Market”. Ini adalah supermarket untuk segmen premium. Dengan bahan-bahan segar berkualitas, mereka melayani  kebutuhan pelanggan –biasanya ibu-ibu yang berbelanja untuk keluarga. Antimainstream dengan supermarket kebanyakan, supermarket ini bukan berfokus pada kelengkapan produk dan harga murah, melainkan customer experience. International experience lho tapi dari perusahaan nasional :D

Satu lagi adalah Sun Pride–anda mungkin sangat familiar dengan pisang yang kuning bersih nyaris tanpa bercak–dengan nama PT. Sewu Segar Nusantara. Kesan yang ditonjolkan dari produk-produk mereka adalah standard internasional. Standardisasi diterapkan mulai dari proses di pertanian, pengemasan hingga distribusi. International standard lho tapi dari perusahaan nasional :D

Ditulis pada jurnal | Tinggalkan Komentar

Jarang baca buku


Kesibukan di tempat bekerja kini bikin kurang baca, euy. Ya bukannya kurang membaca, tapi ya bahan bacaan dari kantor sudah cukup banyak hingga saya sendiri jadi kurang membaca yang lain-lain. Padahal bukan dompet aja yang diisi dengan gaji dari kantor, tapi juga informasi-informasi bermutu yang sehat untuk pikiran kita. 

Saya kira, cara tercepat dan termurah untuk belajar adalah dengan membaca (buku). Ini saya rekomendasikan ke semua pengunjung blog ini. Hehe :D Membaca blog ini pun tidak membuat anda pintar kan? Tidak ditulis dengan serius dengan analis mendalam (eh benar ga ya? :D ). Oleh karena itu, buku (yang bagus) adalah kumpulan tulisan dengan analisis yang mendalam.

Makanya, belakangan ini saya lebih memilih belanja buku di toko-toko buku berbahasa inggris. Daripada toko-toko buku lokal kita yang menjual berbahasa Indonesia. Buku-buku kita kadang hanya memberi judul yang bombastis, dengan isi yang sangat bisa kita temukan di internet – alias tidak ditulis dengan analisis yang mendalam.

Harga di toko buku asing memang mahal, tapi worth it koq dengan isinya. Bukan asal comot sana comot sini saja, tetapi buah pikiran sang penulis memang ada di sana. Buah pikiran dengan perspektif yang jelas tidak sama dengan kita dan sering kali kita tidak mampu  memandang dari kacamata yang seperti itu. Bisa karena tidak mampu, atau bisa karena kita tidak cukup kreatif untuk memutar sudut pandang kita. 

Seringkali, saya menemukan bahwa saya tidak perlu membeli buku untuk mengetahui informasi rinci di dalamnya. Cukup saya nongkrong di toko buku tersebut, sekedar membolak-balik  beberapa halaman (terutama daftar isi) untuk kemudian saya tahu bahwa saya bisa mendapat informasi sejenis dari sumber lain (terutama internet). 

Bahkan versi terjemahan pun masih lebih buruk ketimbang membaca versi aslinya. Ruh dari penulisnya tidak terasa sampai ke saya. Seakan sang penulis tidak sedang bersama saya ketika buku tersebut diterjemahkan –dan memang begitu kenyataannya. Kesulitannya memang tidak setiap kosakata bisa kita mengerti, tapi selama keseluruhan ide bisa kita tangkap, maka tidak tahu terjemahan kata-per-kata jadi tidak masalah bagi saya.

Membaca buku itu sangat penting untuk  kedalaman analisis. Kalau mau jago analisis,  bacalah buku. Jangan artikel saja. Apalagi artikel online yang seringkali diberi judul berita yang tidak mencerminkan isi artikelnya. Hanya sekedar mengejar traffic yang tinggi  untuk website mereka. Artikel 1 halaman jelas kurang untuk membantu kedalaman berpikir kita. 

Ini juga yang menjadi kekhawatiran saya akan generasi masa mendatang. Semua informasi begitu mudah diperoleh. Mereka tinggal ketik-ketik saja di papan tombol komputer, terutama di google search engine, dan begitu gampang jawaban ditemukan. Tetapi habit yang seperti ini -menurut hipotesis saya- akan berujung pada analisis yang dangkal dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. 

Ditulis pada jurnal | Tinggalkan Komentar

Obat Anti Galau


Ya segitu doang, udah galau

Iya juga sih. Saya dan kawan-kawan kampus baru saja naik gunung Papandayan. Berat memang, padahal belum camping di puncak sana. Belum membawa carrier puluhan liter berisi tenda, pakaian, alat masak, dan makanan. Cuma 2600-an meter dari permukaan laut (dpl) dan masih terasa berat, meski tanpa carrier membebani punggung dan pundak. Tapi ya baru segini, masa mau mengeluh capek dan takut mencapai puncak. Padahal ketinggian segini belum ada apa-apanya dibandingkan si atap dunia–yaitu dataran tinggi Tibet–yang rata-rata berada 4500 meter di atas permukaan laut. 

belum apa-apa udah ngeluh

Butiran debu. Frase di sebelah ini jadi andalan ke-galau-an pemuda masa kini. Belum apa-apa sudah mencampakkan dirinya hanya sebatas “butiran debu”. Ya memang benar sih. Cuma butiran debu. Apalagi berada di pegunungan yang risiko kematiannya begitu tinggi. Di mana wafatnya seseorang bisa disebabkan apa saja. Mulai dari longsor, keracunan gas belerang, tersesat di hutan rimba, hingga tersambar petir di tengah hujan deras yang mengguyur. Kita memang cuma butiran debu, tapi ya jangan disia-siakan juga hidup ini dengan kegalauan masa muda. Masa dapat nilai jelek aja sudah galau, terus tertunda bentar urusan nikah sudah galau lagi :D

Image

 

Galau berikutnya berakar dari kebosanan akan rutinitas. Iya lah jadi galau. Hidupnya ya begitu-begitu aja, koq. Engga ada aktifitas yang beda “dikit” dan “challenging”. Pikiran mahasiswa galau nilai, bahwa kuliah ya sebatas datang ke ruang kelas lalu ujian di akhir semester. Kalau dapat nilai jelek, langsung galau :D Nah, makanya naik gunung, dong.  Biar “challenging” dikiiittt aja. Belum sampai puncak ya gapapa. Masih bisa berusaha di lain waktu.

Beberapa galau-ers menjadikan makanan dan minuman di kafe sebagai pelarian. Makan enak, minum nikmat, sambil nongkrong menghabiskan waktu. Sembari menghabiskan sebatang, dua batang, tiga batang rokok–bagi yang merokok. Pelarian yang mudah, ya. Begitu galau, tinggal cari kafe. Pesan makan, lalu nongkrong sampai galau hilang. Sebegitu mudahnya galau diusir, ya sebegitu pula galau akan datang lagi.

Cari obat galau itu yang sulit dijadwalkan. Makin berat khasiat anti galau-nya, makin lama galau datang kembali. Lebih baik, bila beramai-ramai bersama-sama kawan. Sendirian bisa menangis darah di tengah alam. Sekalian, cari yang tantangannya berat dengan medan yang menantang. Bahaya tidak apa, yang penting jangan sampai galau menghadang. Apalagi membuat bimbang dan bengong pikiran. Karena kalau sudah hilang kesadaran, nyawa bisa berada di ujung tanduk. Tuh kan, lebih baik cari tantangan baru daripada menggalau sendirian :)

Ditulis pada jurnal | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

womanpreneur


Retno mengawali pagi hari dengan membantu suaminya bersiap sebelum berangkat kantor.  Mulai dari pakaian, sarapan hingga sepatu. Tidak lupa cium tangan dan doa dari sang istri  mengantar keberangkatan sang suami menuju kantor. Setelah itu Retno bersih-bersih rumah serta memandikan putranya yang masih bayi sembari menunggu kedatangan dua karyawatinya.

Retno tinggal di suatu apartemen di pusat kota Jakarta. Apartemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dirinya dan keluarga kecilnya saja. Melainkan apartemen tersebut juga menjadi kantor dari bisnis online yang dia kelola. Bisnis kecil-kecilan yang menjadi tambahan pendapatan untuk dirinya dan suami. Pendapatan yang cukup untuk menabung aset berupa tanah di kampung.

Setiap hari kerja, dua karyawati datang untuk membantu pekerjaan Retno. Tugas mereka adalah ikut mengoperasikan bisnis busana muslimah yang dia kelola, serta ikut merawat si kecil yang masih berusia 15 bulan. Beragam pekerjaan dilakukan mulai dari menerima order, mengambil dan mengemas produk yang dipesan, hingga pada sore hari mengantar ke jasa kurir yang berada di lantai satu kompleks apartemen.

Pada akhir pekan, Retno masih bekerja. Yang paling sering dilakukan di weekend adalah mencari dan memotret produk baru, yang kemudian akan dipajang di website bisnisnya. Pekerjaan pada akhir pekan memang tidak sebanyak hari kerja biasa. Terbukti  Retno beserta suami dan anaknya, masih sempat jalan-jalan ke mall serta makan di luar. Baginya, keluarga masih tetap yang paling utama.

========================================================================

Womenpreneur is growing. Istilah dan para pelakunya sedang dibahas dimana-mana. Topik yang dibahas oleh media meliputi strategi-strategi yang dilakukan dalam berbisnis. Baik pengelolaan SDM, cara memanfaatkan media sosial untuk  pemasaran, memanfaatkan kredit secara efektif, dan lain sebagainya. Hingga bagaimana para entrepreneur tersebut berhasil pindah kuadran secara sempurna.

Pelaku womenpreneur bukan berjuang keras membiayai hidup. Sebagian besar di antara mereka bahkan hidup  berkecukupan, mengingat masih ada suami yang bekerja. Kebutuhan dasar seperti fisiologis ( makan, pakaian, tempat tinggal) atau safety needs (keamanan, keselamatan) sudah tercukupi oleh suami  bekerja. Ini bukan melulu tentang pendapatan, tapi lebih ke aktualisasi diri.

Beberapa di antara mereka kesal dengan pekerjaan kantor yang membelenggu waktu dan menjauhkan keluarga. Begitu juga gaji yang tak sebanding dengan waktu dan ongkos yang dihabiskan untuk transport, sepatu dan pakaian kantor. Serta opportunity cost yang begitu mahal untuk kasih sayang kepada anak-suami dan time freedom yang hilang. Rasa mereka, terlalu mahal yang dikorbankan sementara yang didapat hanya sedikit.

Meski dengan faktor pendukung yang begitu banyak, tapi tantangan memang menghadang sedari awal. Perempuan adalah kategori yang lebih sabar dalam menjual serta mampu membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Tapi bisnis tidak hanya tentang dua hal tersebut. Bisnis juga tentang negosiasi lokasi, hitung-hitungan lebih murah beli atau sewa, ketegasan dalam berhukum, dan sebagainya.

Bagaimana pun, womenpreneur kita yang berasal dari kalangan kelas menengah, bukan hanya berhasil menaikkan pendapatan pribadinya saja. Selain belanjanya juga naik, mereka juga membantu karyawan/karyawati mereka menaikkan pendapatan. Ya, belanja yang lebih banyak berarti menaikkan pendapatan orang lain hingga orang lain juga berbelanja kepada kita dan menaikkan pendapatan kita.

Thanks to all Womenpreneur

Ditulis pada jurnal | Di-tag | Tinggalkan Komentar

lama ga nge-blog


dulu, tujuan saya membuat blog ini adalah untuk  belajar menulis.  ya engga jauh beda dari orang yang punya diary, lha. buat latihan berkomunikasi lewat kata-kata. tapi ya orang nulis diary  kan buat curhat biasanya ya. kalo ini beneran buat menuangkan manfaat. terutama yang bisa dibaca oleh orang lain. Bukan tulisan yang alay-lebay-galau. hehe :D

tapi belakangan, ini blog makin tak terurus. frekuensi tulisan makin jarang. lantas jadi ga belajar menulis, dong? ternyata engga juga.  waktu dan tenaga saya untuk menulis sekarang banyak digunakan di pekerjaan.  iya, sekarang saya dibayar untuk  menulis. mulai dari menulis proposal,  bahan workshop hingga report. makanya, belakangan terasa kan, kalo  tulisan-tulisan saya di blog ini jadi semakin serius? hehe.. tapi  jangan sungkan-sungkan kembali ke sini lha, ya. *agak sedikit maksa*

 

 

Ditulis pada jurnal | Tinggalkan Komentar

Kapan sebaiknya mengambil program S2 ?


(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe :D Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe :D

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe :D Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana :D Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: kalimat terakhir tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Ditulis pada jurnal | Tinggalkan Komentar

Karir itu Pilihan


Sekian puluh persen generasi saya di kampus saat ini sedang sibuk mengejar karir. Sesuatu yang mungkin tidak mereka lihat dari orang tua mereka. Rekan-rekan saya ini sebagian besar berasal dari daerah. Dimana, kegiatan ekonomi tentu tidak sepesat jabodetabek. Sehingga pergi pagi ya pulang sore. Tidak perlu lembur, dan ada dua hari kosong di sabtu dan minggu. Banyak waktu untuk keluarga. Sarapan dan makan malam bersama. Belum termasuk akhir pekan yang sangat bisa dinikmati.

Kawan-kawan early-jobber ini sedang mengalami semangat yang tinggi. Karena perubahan ekstrim terjadi. Dari sebelumnya hanya belajar untuk ujian, kini menjalani dunia yang sebenarnya. Pekerjaan di belakang meja berkutat dengan data-data, rapat-rapat penting mengambil keputusan, hingga bertemu dengan calon pelanggan untuk menawarkan barang dagangan dari perusahaan tempat bekerja. Dari sebelumnya hidup serba pas di kamar kos sambil menunggu kiriman bulanan dari orang tua, kini sudah punya penghasilan sendiri yang bisa dinikmati sendiri. 

Pekerjaan yang disenangi, ditambah gaji yang “worth it”, serta status “karyawan multinasional” atau kebanggaan bekerja di “BUMN ternama” akhirnya menjadikan kawan-kawan saya sebagai Climber. Maksudnya, mereka menaiki tangga sosial-ekonomi demi kehidupan ekonomi yang lebih sejahtera serta status sosial yang lebih  baik di mata orang lain.

Seorang kawan yang lain, memutuskan ikut suami berpindah kota demi kota. Pekerjaan suaminya adalah apoteker penanggung jawab di perusahaan yang bergerak di bidang ritel farmasi. Tidak mungkin bagi dia untuk mengambil pekerjaan tetap di kota yang dia tinggali saat itu. Bila mau, yang mungkin adalah menjadi guru honorer di SMK. Intinya, mengambil pekerjaan yang tidak terlalu berat dan bisa mengundurkan diri kapan saja. Karena, karir yang dia kehendaki adalah menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik.

Hanya saja, cara pandang masyarakat kita masih terlalu mainstream. Sarjana yang menjadi Ibu Rumah Tangga dianggap menyia-nyiakan pendidikan yang pernah ditempuh. Saya duga, masyarakat kita masih memandang pendidikan tinggi adalah investasi untuk bekerja. Ukuran yang digunakan adalah gaji yang diterima, atau kembalinya modal untuk kuliah. Bukan pendidikan tinggi sebagai sarana untuk belajar mengembangkan pikiran, sikap terhadap pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Seorang dari keluarga saya, dianggap berhasil menjadi Ibu Rumah Tangga oleh mertuanya. Ukurannya sederhana, yaitu anak yang dididik menjadi anak pintar. Ukurannya sederhana memang, tetapi mencapainya tidak mudah dan harus tetap fokus. Karena itu anggota keluarga saya ini memilih menjadi Ibu Rumah Tangga saja. Daripada tetap bekerja di luar rumah tapi tidak fokus dalam mendidik anak.

Pada akhirnya, karir itu pilihan yang rumit. Karena memilih yang satu, berarti tidak memprioritaskan yang lain. Karir yang dikejar, baik kompetensi maupun jabatan yang diinginkan sesungguhnya adalah akumulasi atas kerja keras di hari-hari kemarin. Mereka yang menjadi CEO saat ini, berarti memang memutuskan fokus pada karir tersebut sudah sejak lama. Usaha keras mereka selama ini adalah membangun kompetensi untuk mengisi posisi jabatan tersebut.

Ditulis pada jurnal | Di-tag , | 3 Komentar